visi-misi

YAK/PARPEM GBKP | Kamis, 03 November 2016 - 08:10:36 WIB | dibaca: 200 pembaca

VISI MISI PERKELENG

I.                   VISI

MENJADI KOPERASI YANG MANDIRI, TANGGUH, TERPERCAYA, DAN MAMPU MENGEMBANGKAN SUMBER DAYA YANG POTENSIAL    UNTUK KESEJAHTERAAN BERSAMA.

II.                MISI

1. MENGEMBANGKAN POTENSI SUMBER DAYA POTENSIAL KELOMPOK ANGGOTA PERKELENG.

2.      MENGEMBANGKAN EKONOMI KERAKYATAN YANG BERMANFAAT GUNA BAGI MASYARAKAT LUAS DAN LINGKUNGAN.

3.      MEMPERKOKOH JARINGAN KERJASAMA, SOLIDARITAS DAN SPIRITUALITAS ANTARA ANGGOTA PERKELENG.

4.      MENGEMBANGKAN MANAJEMEN USAHA YANG SEHAT DAN BERDAYA SAING, DEMI MENINGKATKAN  PRODUKTIVITAS PELAYANAN PERKELENG YANG PROFESSIONAL.

 


III.             TUJUAN

1.      Meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan anggota.

2.      Meningkatkan peran masyarakat dalam menopang ekonomi kerakyatan dan penggerak eksistensi usaha kerakyatan.

3.      Perkeleng sebagai Badan Usaha yang dikelola secara professional, tangguh, terpercaya dan mandiri.

 

IV.             NILAI-NILAI
Perkeleng  berdasarkan nilai-nilai kasih, solidaritas, demokrasi, rasa memiliki, transparan dan mandiri.

                   Dalam menjalankan misinya Perkeleng meyakini akan nilai-nilai ethis seperti kejujuran, keterbukaan, saling percaya, tanggungjawab social dan kepeduliaan terhadap sesama.

V.                Prinsip-prinsip
   1. Keanggotaan yang sukarela dan terbuka
   2. Pengawasan yang demokratis oleh anggota
   3. Partisipasi ekonomi anggota
   4. Otonomi dan keswadayaan
   5. Pendidikan, pelatihan dan informasi
   6. Kerjasama diantara anggota
   7. Kepedulian terhadap komunitas dan lingkungan


VI.             ANALISIS LINGKUNGAN DAN SWOT

 

·         FAKTOR SOSIAL

            Keanggotaan

                         Yayasan Ate Keleng sebagai mitra strategis mendampingi 161 kelompok CU di 13 kabupaten /kota di seluruh Indonesia.  Jumlah anggota CU binaan YAK 29.359 orang ( Laki-laki 11.041 orang,perempuan 18.318 orang ), 9 kab/ kota di SUMUT, 6 klp 3 kab di Riau, 2Kab/ kota KEPPRI , 2 klp di Jakarta  yang sudah menjadi anggota sosial perkeleng 20.233 orang. 166 orang meninggal/ 20.233X 100 = 0,816 data RAT 2014

         GENDER

-           Keanggotaan dan partisipasi di CU sampai saat ini masih didominasi oleh perempuan sebesar 70% perempuan, 30% laki-laki. Sementara  struktur Kepemimpinan dan keikut sertaan dalam pelatihan di CU masih didominasi oleh Laki-laki ( L : 556 orang, P : 677 orang ), jabatan bendahara lebih banyak didominasi oleh perempuan dan laki-laki lebih banyak menjabat sebagai ketua.

-          Perempuan lebih banyak hadir pada saat penabungan sementara didalam jabatan lebih banyak laki-laki disebabkan karena perempuan memiliki beban ganda dan budaya patriakal karo.

 

         FAKTOR POLITIK

-  Perjalanan Perkeleng  didukung oleh Gereja, Pemerintah Desa. Dalam hal ini YAK     GBKP yang adalah pendamping kelompok CU anggota perkeleng.

-  Melihat pada kebijakan dan aturan pemerintahan, setiap kegiatan ekonomi berbasis masyarakat harus mengikuti sistim perundang- undangan yang berlaku, yaitu dengan memiliki Badan HUkum. Hal ini berhubungan dengan syarat agar CU dapat mengakses program yang ada di pemerintah, terutama berkaitan dengan Masyarakat Ekonomi Asean 2015 dan perdagangan bebas dunia 2020.

         FAKTOR EKONOMI

-          Program pemerintah dalam rangka mensejahterakan masyarakat banyak yang belum tepat sasaran atau memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama dalam hal pelayanan akses keuangan dan permodalan. Sehingga Masyarakat merasakan CU itu sangat membantu untuk permodalan usaha.

-          Secara umum dengan keberadaan CU ada terlihat perubahan yang signifikan, seperti mudahnya mengakses modal usaha ( biaya pendidikan, biaya pesta, biaya kesehatan, menambah asset keluarga). Anggota CU semakin            bijaksana dan bertanggung jawab di dalam mengelola managemen ekonomi rumah tangganya. Termasuk juga ada peningkatan kualitas kesetaraan gender di dalam memanfaatkan modal yang didapatkan dari CU.

-          Dalam hal pemasaran produk usaha, terutama produk pertanian, petani masih belum mampu mengelola produk pasca panen untuk memiliki nilai tambah. Hal ini berdampak pada harga yang lebih diatur oleh para tengkulak/pemodal dan petani tidak memiliki nilai tawar.

 

         FAKTOR EKOLOGI

-          Perubahan iklim yang ekstrim       mengakibatkan  menurunnya kwalitas dan bahkan sampai gagal panen di  Kecamatan Lau baleng, Tiga binanga, Medan sekitar (jagung, padi).

-          Bencana alam akibat erupsi Sinabung yang mengakibatkan rusaknya infrastruktur seperti lahan pertanian dan pemukiman yang berdampak hilangnya mata pencaharian  utama  masyarakat disekitar wilayah Sinabung. Selanjutnya       mempengaruhi pengembangan usaha dan kelancaran kegiatan simpan pinjam yang dikelola oleh masyarakat dan Perkeleng.

-          Musim tanam yang tidak serentak (nilai-nilai kebersamaan yang menurun)  yang mengakibatkan hama tidak terkendali.

-          Kondisi lahan yang sudah kritis/kurang subur sehingga petani  harus memproduksi pertanian dengan biaya tinggi, padahal hal ini bisa diatasi dengan meminimalisasi penggunaan           pupuk kimia dan meningkatkan penggunaan pupuk organik. 

I.                   PROGRAM KERJA

1.      Kesempatan menambah 20 kelompok CU menjadi anggota Perkeleng.

  1. Meningkatkan kwalitas dan kwantitas (Nilai tambah) untuk komoditi untuk memenuhi pasar terbuka.
  2. Memanfaatkan jaringan untuk penambahan modal, kapasitas pelaksana dan pasar.
  3. Meningkatkan Sosialisasi dan publikasi CU lebih intens dan luas.
  4. Menciptakan produk unggulan ( sosial kematian, jaminan kredit, sistim pembukuan, keamanan simpanan) lebih unggul dari prodak lembaga keuangan lain.
  5. Membentuk Badan Hukum dan izin usaha.
  6. Pembentukan dana khusus bencana.
  7. Pendidikan kritis ke CU Primer.
  8. Membuat SOP (keuangan, organisasi, administrasi dan lain-lain).
  9. Membuat wibe site dan aplikasi (jika CU kita primer).
  10. Mengangkat bidang kredit yang full time.
  11. Penerimaan anggota sosial ke perkeleng harus melampirkan indentitas diri (KTP) dan dalam kondisi tidak sakit.
  12. Menyelenggarakan pendidikan capacity building.
  13. Menerapkan budaya managemen yang lebih propesional dan akuntable ( keuangan, kredit).