Hiv & AIDS

YAK/PARPEM GBKP | Kamis, 07 Juli 2016 - 19:53:33 WIB | dibaca: 209 pembaca


 
 
 
 
 

1.      UNIT ADVOKASI

 

Mewujudkan solidaritas masyarakat yang peduli dan mampu membela haknya untuk menyelesaikan persoalan secara kritis dan jujur melalui kegiatan :

 

1.1  Pendidikan kelestarian lingkungan

Ketersediaan air merupakan kebutuhan dasar hidup masyarakat dan sumber air tersedia dan berkelanjutan apabila lingkungkungan dijaga dan dilestarikan. Keberadaan air dapat memenuhi kebutuhan yang lain seperti Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) dan hal ini dapat menjawab krisis energi yang terjadi saat ini. Dimana rasio elektrifikasi atau ketersediaan listrik bagi masyarakat hanya 85%. Pembangunan sarana air minum telah terlaksana di 8 desa, pembangkit listrik tenaga air di 11 desa, bio gas, mesin pencacah rumput, mesin penghancur tungkul jagung dan pemipil.

 

Keberadaan Peraturan Desa (Perdes) dalam perlindungan lingkungan dan proyek MHP/SAM menjamin keberlanjutan pengelolaan dan keberadaan program yang berbasis pengelolaan masyarakat. Ditambah dengan partisipasi masyakat dalam melakukan penanaman pohon di sepanjang alur sungai dan mata air.

 

1.2  Pendidikan kesetaraan gender

 a. Perempuan memiliki akses yang terbatas di berbagai sektor dan mengalami diskiriminasi yang lebih buruk daripada laki-laki di berbagai kebijakan publik. Dalam hal ini, jumlah perempuan yang menduduki jabatan publik masih rendah, perempuan masih ditempatkan pada posisi-posisi yang tidak menentukan (tidak penting). Urusan memperjuangkan hak atas Sumber Daya Air (SDA) masih dianggap urusan laki-laki. Padahal yang mengalami dampak krisis SDA secara langsung, biasanya adalah perempuan.

 

b.  Perempuan masih menjadi subordinasi di masyarakat dan di berbagai organisasi sosial; kesadaran politik pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Mesikupun fakta di lapangan bahwa peluang bagi perempuan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan untuk peningkatan kapasitasnya sudah terbuka, namun dalam menduduki jabatan penting di organisasi (ketua pengurus) tetap didominasi laki-laki. Hal ini juga dipengaruhi budaya (patriarkhi) yang masih memberikan peluang yang lebih besar kepada laki-laki ketimbang perempuan

 

Secara umum, kepengurusan CU sudah seimbang antara laki-laki dan perempuan. Sebagai Ketua sudah ada perempuan sebanyak 31 kelompok dari 160 kelompok dampingan. Bisa dilihat bahwa untuk menjadi pemimpin pengambil keputusan, masyarakat masih menganggap laki-lakilah yang pas. Padahal dari kenyataanya, perempuan sudah banyak mendapatkan pendidikan khususnya dari YAK dan media informasi. Pendidikan yang diselenggarakan YAK di kelas dan di kelompok, kebanyakan yang hadir adalah perempuan. Rata rata kehadiran dalam pertemuan adalah 80% perempauan, 20% laki-laki

 

1.3  Penyadaran Bahaya HIV/Aids dan Narkoba

Wilayah pendampingan YAK GBKP di 3 kecamatan (Sibolangit, Namorambe dan Susuk) merupakan penyebaran narkoba yang tinggi dan rentan (berisiko) terhadap penyebaran HIV/AIDS. Sebanyak 3 orang dampingan yang terinfeksi HIV/AIDS meninggal dunia dan yang masih dalam penangangan perawatan saat ini 11 orang (5 perempuan, 6 laki-laki). Penyebaran HIV/AIDS pada umumnya terjadi melalui penggunaan jarum suntik pengguna narkoba, lewat transfusi darah, hubungan seksual dan seks bebas

Pekerja seks komersial (PSK) yang tinggal di dua tempat lokalisasi yang saat ini tidak mendapatkan pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan reproduksi untuk antisipasi penyebaran penyakit HIV/AIDS.

ODHA belum mempunyai tempat untuk bersosialisasi dengan sesame mereka dalam menghadapi masalah mereka, seperti: adanya diskriminasi, menjaga kesehatan, saling memotivasi dalam melakukan usaha-usaha memberikan pendapatan bagi mereka. Situasi ODHA dari aspek social berasal dari keluarga yang kurang berpendidikan dan kalangan ekonomi miskin.

Tingkat pengetahuan masyarakat akan penyebaran dan penanganan HIV/AIDS masih sangat rendah. Hal ini dilihat dari ketidakberanian masyarakat untuk melakukan test HIV dan masih terjadi diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS, karena penyakit ini masih dianggap akibat dosa dan penyakit yang memalukan. Ketidak-tahuan masyarakat akan penyebab dan penyebaran HIV/AIDS sehingga ada ketakutan dalam berhadapan dengan Orang Dengan HIV (ODHA). Instansi yang terkait juga belum optimal dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan pencegahan penyebaran HIV/AIDS kepada masyarakat.  Karena itu kedepan YAK tetap konsentrasi terhadap isu HIV/AIDS dan menjadikannya sebagai salah satu item program YAK dalam program kerja advokasi dengan melakukan sosialisasi, pendidikan, dan kampanye tentang pencegahan dan penanggulangan penyebaran HIV/AIDS di wilayah pendampingan.

Tingginya kekuatiran masyarakat akan penyebaran narkoba yang semakin meluas bahkan sampai ke pelosok desa.  Hal ini sangat berkaitan dengan penyebaran HIV/AIDS berkaitan dengan pemakaian jarum suntik dan perilaku seks bebas.