berita

Seminar Loka Karya PERKELENG

YAK/PARPEM GBKP | Kamis, 20 April 2017 - 10:31:39 WIB | dibaca: 1075 pembaca

Foto : Rea Bangun

YAKGBKP-PARPEM.OR.ID Sebagai kumpulan Organisasi Rakyat atau lebih dikenal dengan Credit Union (CU), PERKELENG dalam tujuannya mengembangkan kelompok kelompok dampingan, kembali melaksanakan Seminar Loka Karya. Semiloka yang dihadiri oleh Kelompok Dampingan, Pembina, Pengurus, Pengawas, PL, dan Pelaksana PERKELENG membahas beberapa point, yaitu mengenai awal terbentuknya PERKELENG, PERKELENG di masa sekarang dan PERKELENG yang akan datang. Seminar ini dilaksanakan di Training Center, Sukamakmur, Rabu (19/04/2017).

Semiloka dibuka dengan kebaktian yang dibawakan oleh Pdt. Yusuf Tarigan, S.Si selaku Direktur Yayasan Ate Keleng  dengan bahan alkitab berdasarkan dari Keluaran (13:21-22). Dalam khotbahnya beliau menceritakan bahwa sudah banyak sekali pengalaman  PERKELENG baik berupa pengalaman yang positif dan juga banyak tantangan  yang dihadapi. Pengalaman ini tentunya tidak seharusnya dilupakan namun dapat menjadi pembelajaran  dalam menantap PERKELENG yang baik lagi di masa yang akan datang.

Selanjutnya Pdt. Agustinus Pengarapen Purba, S. Th, MA selaku ketua Moderamen GBKP sekaligus sebagai Narasumber, menceritakan sejarah terbentuknya PARPEM (Yayasan Ate Keleng) dan PERKELENG. Beliau menjelaskan bahwa awalnya Pdt. Borong Tarigan  melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat salah satunya di bagian permodalan. Masyarakat yang mayoritas petani dan peternak sulit dalam mendapat akses pinjaman untuk pendukung usahanya ditambah lagi banyaknya rentenir yang memberikan bunga pinjaman yang tinggi. Hal ini berdampak pada meningkatnya biaya produksi petani. Hal inilah yang melatar belakangi dibentuk Credit Union. Namun tantangan tetap muncul dengan wujud berbeda. Setelah CU semakin meningkat, kesenjangan antara antara CU yang satu dengan yang lainnya semakin terlihat. Satu sisi ada CU yang kelebihan modal dan CU lainnya kekurangan modal. Untuk mengatasi hal tersebut, atas dasar inisiasi kelompok dan seluruh individu di dalamnya, maka dibentuklah PERKELENG sebagai penyeimbang dan mengurangi kesenjangan antar kelompok. Pdt. Agustinus juga menegaskan bahwa sasaran PARPEM bukan tentang memperkuat masyarakat dalam permodalan saja. PARPEM  akan konsisten menjadikan CU sebagai pintu masuk  dalam melakukan kegiatan pelayanannya.

Selanjutnya Linda Ginting menjelaskan perkembangan perkeleng hingga saat ini. Saat ini, PERKELENG sudah memiliki anggota sekitar 155 Kelompok di 7 Kabupaten. Dan Sudah ada 138 kelompok ikut ambil bagian dalam jaminan sosial dan 131 Anggota mengikuti jaminan simpanan dan pinjaman.

 

Mengenai PERKELENG di masa sekarang, Lesmawati Perangin Angin juga menambahkan PERKELENG sudah semakin besar. Namun PERKELENG juga memiliki permasalahan mengenai penumpukan modal. Tentunya hal ini merupakan imbas dari kurang lancarnya perputaran modal di kelompok.

PERKELENG di masa datang, Pdt. Yusuf Tarigan S.Si menerangkan bahwa kedepannya PERKELENG tidak hanya menjadi wadah,  tapi PERKELENG dengan semua pihak diharapkan nantinya dapat mencari solusi mengembangkan CU Primer. Tentunya semua hal tersebut adalah upaya dalam mencapai visi PERKELENG, “Menjadi koperasi yang mandiri, tangguh, terpercaya dan mampu mengembangkan sumber daya yang potensi untuk kesejahteraan bersama.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)