Artikel

Edo Bastanta Sinuhaji

Jalan-Jalan ke Desa Sala Bulan Dusun Laja Melihat Mesin PLTMH

YAK/PARPEM GBKP | Kamis, 02 Maret 2017 - 11:26:37 WIB | dibaca: 1683 pembaca

Pak Petra dan Operator PLTMH Menikmati Suasana Sungai Buham dan Lateng

Berhubungan jadwal penabungan CU di Dusun Laja pada saat itu saya ikut dengan pendamping CU. Empindonta dusun Laja Bapak Petra Sinuraya. Berangkat Dari Sukamakmur pada pukul 11.00 Wib (16/12/2017) dengan menggunakan sepeda motor. Pada saat pertama kali menuju ke dusun Laja kita memasuki perkampungan masyarakat Karo di Simpang Pasar Baru Sibolangit, saat diperjalanan Pak Petra mengatakan untuk menuju Dusun Laja sebenarnya bisa juga melalui jalan Biru-Biru Deli tua. Dusun Laja ini berada diantara hutan Sibolangit terletak sekitar 15 Km dari ibu kota kecamatan. Sebelum kita sampai di simpang Salabulan kita akan melewati jalanan Desa Rumah Kinangkung dan ketika sampai di simpang Sala Bulan, Jalanan beraspal pun sudah habis dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau bersepeda motor itupun jalan yang dilalui cukup ekstrim. Jalanan tanah sudah menyambut di depan. 300 meter kemudian, jalanan tanah sudah habis diganti jalanan tanah basah dan licin kemudian berganti dengan jalanan berlumpur. Sangat sulit medan yang ditempuh untuk menuju Dusun Laja. Kami melewati beberapa perkampungan dan kami telah masuk ke dalam hutan tropis menyebrangi sungai yang sangat jernih dan kami menyempatkan waktu untuk beristirahat sejenak menikmati suasana sungai sambil membersihkan bekas lumpur. Sepanjang jalan menuju Dusun Laja kita tak melihat satu pun tiang listrik dipinggir jalan menuju Dusun Laja, kita seakan tak percaya Dusun itu telah di aliri listrik dan membayangkan pada malam hari pasti akan gelap berada disana.

Dusun Laja berada di sepanjang aliran Sungai Lateng dan Sungai Buham airnya bersih dan stabil. Sesampai di Dusun Laja ternyata kegiatan CU sudah berlangsung, anggota dan pengurus saling berhubungan, ada yang menabung, membayar angsuran pinjaman, dan mengajukan pinjaman. Selesai itu Pak Petra selaku pendamping memberikan sosialisasi Hak Atas Kesehatan kepada Pengurus dan Anggota CUSaya dengan Kadus Laja bercerita, Beliau menceritakan tentang sejarah PLTMH di Dusun Laja. Beliau mengatakan "pada saat ini kebutuhan energi di dusun Laja meningkat, mesin PLTMH yang saat ini dipakai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik penduduk desa, karena kami juga ingin seperti yang desa lainnya yang sudah memanfaatkan energi listrik untuk membantu pekerjaan, bisa upto date mendapatkan informasi melalui televisi, dan anak-anak bisa belajar dengan pencahayaan yang cukup dimalam hari. Tentunya itu memerlukan energi listrik yang lebih besar lagi. Oleh karena itu pemerintahan desa Sala Bulan memprioritaskan pembangunan PLTMH yang baru tentu yang menghasilkan daya yang lebih besar demi mendukung perekonomian masyarakat juga. Yayasan Ate Keleng diminta oleh pemerintahan desa untuk mendampingi proses pembangunan PLTMH tersebut dalam hal perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan pelaksanaan pembangunan" Ujarnya.

Setelah itu saya dan operator PLTMH mengunjungi Mesin yang berada di Sungai Buham untuk menuju ke Sungai ini jalannya juga sangat curam dan licin, saya bertanya bagaimana jika Mesin tiba-tiba bermasalah pada tengah malam, dia menjawab "kami akan tetap turun kebawah memperbaikinya karena sudah tanggung jawab kami sebagai Operator" ungkapnya.

Rumah tempat mesin PLTMH yang baru berada dibawah, sedangkan rumah mesin yang lama berada diatas. Mesin yang baru diresmikan pada akhir Desember 2016. Operator PLTMH dusun Laja mengatakan "Mesin PLTMH yang lama akan tetap dijaga dan dirawat bersama dengan rumah mesinnya walaupun nanti tidak dipakai lagi, tetapi agar anak cucu tetap bisa melihat dan tidak melupakan sejarah mesin yang pertama kali mengaliri listrik ke dusun Laja ini. Setelah mesin yang baru ini resmi dioperasikan, maka nanti akan difungsikan untuk mengaliri listrik ke tiga dusun karena daya yang dihasilkan cukup besar. Dan setiap bulannya nanti akan dikutip iuran bagi setiap penduduk desa yang memakai listrik ini guna perawatan mesin" ungkap operator mesin PLTMH Dusun Laja.

Setelah selesai melihat-lihat dan menikmati suasana udara sejuk serta air yang jernih kami pun melihat waktu yang sudah semakin sore, kami pun berfikir untuk kembali ke kantor. Jalan yang curam pun kembali kami lalui dengan tergesa gesa karena sangat melelahkan untuk menuju keatas. Sampai diatas kami duduk sejenak karena cukup memakan energi dan cukup melelahkan. Pada saat perjalanan pulang kami berpapasan dengan penduduk yang baru pulang dari pasar menjual hasil dari ladang mereka, ada juga yang menjemput anaknya yang baru pulang dari sekolah. Saya pun berfikir betapa sedihnya melihat mereka setiap hari harus melalui jalan yang rusak. Belum ada bantuan pemerintah untuk membangun infrastruktur jalan. Saya berharap suatu saat mimpi mereka untuk mendapat akses infrastruktur jalan yang layak bukan hanya sekedar mimpi lagi agar penduduk sudah semakin mudah menuju pasar untuk menjual hasil pertanian mereka dan anak-anak pergi ke sekolah tidak lagi ketakutan melintasi jalan yang rusak. Sekian cerita saya tentang perjalanan ke dusun Laja kiranya kita yang tidak tinggal dipedalaman lebih dapat bersyukur dengan apa yang kita dapat saat ini karena masih banyak saudara-saudari kita yang masih dalam keadaan susah dipedalaman sana.

Jalan Tanah Basah Menuju Dusun Laja

 

Melintasi Sungai Lau Buham

 

Aktivitas CU. Empindonta Dusun Laja

 

 

Rumah Mesin PLTMH yang lama

 

Air Terjun Sungai Lau Buham dan Lateng

 

Mesin PLTMH yang lama

 

Bahan Bangunan untuk Mesin PLTMH yang baru

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)