Artikel

Aleta Baun, Perempuan Pejuang Lingkungan di Timur Indonesia

YAK/PARPEM GBKP | Senin, 15 Mei 2017 - 14:47:23 WIB | dibaca: 345 pembaca

Tujuh belas tahun silam, Aleta Baun seorang pejuang wanita dari tanah Mollo, kabupaten Timor Tengah Selatan (TT)S, Nusa Tenggara Timur, masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kepolisian TTS.

Dia menjadi musuh utama Bupati TTS, pada 1999, sebagai orang di balik penolakan masyarakat adat Mollo terhadap perusahaan tambang marmer di desa Fatukoto.

Pada 2006, ia kembali bermusuhan dengan Bupati TTS lainnya karena dianggap bertanggung jawab terhadap aksi ratusan warga, khususnya perempuan.

Kala itu, dirinya dan masyarakat lain menduduki tambang marmer dengan menenun selama dua bulan di desa Fatumnasi dan Kuanoel. Mereka menuntut penghentian tambang marmer milik pengusaha Jakarta.

Perjuangannya tidak sampai di situ. Dia yang juga seorang istri dan ibu dua anak, harus keluar masuk kampung di malam hari untuk bertemu masyarakat lain agar tak dicegat preman ataupun polisi. Dia akan pergi saat hari mulai terang.

"Ketika berjuang saya tahu harus tinggalkan keluarga. Membagi prioritas yang juga saya perjuangan untuk hak masyarakat. Bukan saya tak peduli dengan keluarga sendiri, tapi prinsip keberlanjutan hidup adalah kita dilahirkan untuk orang lain bukan untuk diri sendiri," ujarnya suatu kali, usai ditemui dalam gelaran yang diusung Mama Aleta Fund di KeKini, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut kisah perjuangannya, Aleta dan rakyat Mollo menghadapi intimidasi dan kekerasan oleh preman yang dibayar perusahaan. Aleta bahkan harus mengungsi membawa bayinya berumur 2 bulan, keluar masuk kampung dan sembunyi di hutan.

Meski telah berjuang sedemikian rupa untuk masyarakat kampungnya, tak sedikit dari mereka yang memberinya tekanan. Terlebih yang pro pada pertambangan.

"Saya sampai dianggap pelacur karena sering di luar rumah. Dikatakan perempuan malam, tidak punya harga diri, naik ojek turun ojek, tidak tidur di rumah, tidak urus rumah tangga, bahkan dituduh selingkuh dengan tukang ojek," kenang Aleta.

Baginya, itu sekelumit kisah pengalaman dia sebagai orang Mollo dalam menyelamatkan alam.

"Kami berjuang selama 13 tahun [1999-2012] menutup tambang marmer. Kami berikrar untuk tidak lagi membiarkan pembangunan dan ekonomi yang merusak alam. Kami berikrar untuk mandiri. Hingga saat ini kami masih berjuang memulihkan alam," ujar Aleta.

Tindakan tersebut disampaikan Aleta sebagai bentuk kepedulian rakyat Mollo pada alam. Dia mencontohkan batu marmer di Mollo yang diperlihatkan lewat foto.

"Batu ini sudah tidak utuh, salah satu yang paling mudah memahami isu lingkungan, alam itu seperti tubuh manusia. Batu itu tulang, air itu darah, tanah itu daging dan hutan itu sebagai kulit, paru-paru dan rambut. Jadi merusak alam sama dengan merusak tubuh kita sendiri," tuturnya.

Dorongan yang membuatnya bersatu dengan orang Mollo untuk mengusir perusahaan tambang pun satu. Mereka tak mau kehilangan identitas orang Mollo yang identik dengan gunung batu.

"Asal muasal leluhur kami akan hilang ketika gunung batu dihancurkan, hutan dan sumber air rusak. Perempuan, seorang ibu seperti saya adalah yang paling menderita. Kami yang bertanggung jawab menyediakan air dan makanan untuk keluarga," kata Aleta.

Dia menambahkan, "Karena bicara sumber daya alam itu bicara yang mengaksesnya. Perempuan itu banyak mengakses sumber daya alam untuk pangan, dari sayur-sayuran dan lainnya."

Penolakan dengan menenun sendiri, diungkapkan Aleta juga karena tenun menjadi identitas adat orang timur.

Dia mengungkapkan bahwa sejak kecil ia diajarkan ibunya menenun, juga soal tentang kekayaan alam, adat dan tanggung jawab perempuan.

"Perempuan bertanggung jawab menjaga identitas orang timur dan alam, karena mereka yang menenun. Sementara dengan laki-lakinya, kami berbagi peran saat berjuang. Mereka urus rumah, anak, bergantian. Kami juga bergotong royong di lahan orang lain agar dapat upah membiayai perjuangan," tutur Aleta lebih lanjut.

Raih penghargaan

Perjuangan Aleta menghentikan pertambangan di kampungnya tidak hanya berhasil. Pada 2013, dia turut menerima penghargaan lingkungan Goldman Environment Award 2013.

Penghargaan itu dinilainya sebagai momentum penting bagi perjuangan perempuan Timor menyelamatkan masyarakat adat dan alam yang diakui secara global.

"Saya persembahkan ini bagi orang Mollo, Amanuban dan Amantun," kenang Aleta mengingat pidatonya saat menerima penghargaan itu di San Fransisco Amerika Serikat.

Goldman Prize Award 2013 memberikannya hadiah sebesar US$150 ribu atau sekitar Rp1,4 miliar saat itu. Meski ia meraihnya secara individu, Aleta mengaku tak mau menggunakannya sendiri. Dia ingin membantu yang tengah memperjuangkan hal serupa dengan hadiah yang ia dapat.

Diketahui, untuk hal itu, Aleta meminta bantuan Samdhana Institute untuk mengelola hadiahnya dan disanggupi lewat program Mama Aleta Fund'.

"Saya memikirkan bagaimana bisa melanjutkan perjuangan saya, selamatkan dan memulihkan alam. Bagaimana dana yang saya simpan selama beberapa tahun ini diberikan untuk yang akan melanjutkan pekerjaan dalam menjaga lingkungan," tutur Aleta.

Dia menyampaikan, bahwa dirinya mengajak orang-orang yang punya perhatian yang sama untuk ikut membangunnya lewat Mama Aleta Fund itu.

"Siapa saja yang mau partisipasi, mekanisme untuk penggunaan dana sendiri tentu ada pengajuan dulu. Prioritas untuk kaum perempuan dan lingkungan, itu penting karena yang bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia, untuk keberlanjutannya," katanya.

Setelahnya, Aleta mengatakan akan ada tim yang memantau pekerjaan yang diajukan itu. Sementara ini, dia menyampaikan bahwa pendanaan untuk program lingkungan masih berpusat untuk yang berada di Nusa Tenggara Timur.

"Harapan saya tidak ada lagi permasalahan dan banyak perempuan yang tergerak," pungkasnya.

Sumber : http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170422102142-277-209416/aleta-baun-perempuan-pejuang-lingkungan-di-timur-indonesia/










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)